Tampilkan postingan dengan label aku punya cerita... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku punya cerita... Tampilkan semua postingan

Mak, Aku Jatuh Cinta



mak..
aku jatuh cinta..
pada tangan kasar yang memegang tubuhku ketika limbung sehingga aku tak jatuh ke comberan bau itu..
jatuh cinta..
saat dia mengusap bibirku yang belepotan liur dengan bajunya..
aku serasa melayang mak..
ketika dia memeluk tubuhku, aku hirup baunya..
makanya aku tau kalau dia tak punya minyak wangi di atas kaca riasnya..
mak..
dia cinta pertamaku..
dia melantunkan lagu sunyi dengan suara sumbangnya yang membuatku jatuh pulas..

bolehkah mak?
dia memberitahuku, semut itu kecil, dan gajah itu besar..
pelangi itu tak begitu indah, aku tak perlu melihatnya..yang indah adalah wajahku, mak.. itu katanya..
dia mengajariku Tuhan menciptakan berbagai rasa..
tak usah dilihat..
aku tau es itu dingin, api itu yang panas..
Lalu tanah itu yang halus, batu itu kasar..
bunga harum, rumput pun harum, tapi bau mereka berbeda..
untuk apa?
agar gadis sepertiku bisa tetap membedakannya..

Esok hari, dia akan mengajariku naik sepeda..
lalu esoknya lagi mengajariku berjalan sendiri ke pasar..
esoknya lagi, dia bilang akan mengajariku memasak, menjahit..
apa itu mungkin mak?
betapa aku mencintainya..
lihat ini mak, dia memberikanku tongkat baru..
dia mengukir tulisan di bagian ini..
coba lihat mak..
apa bacaannya mak?

Bibir Emak bergerak..
"Emak cinta Erna.."
tapi gadis itu takkan bisa mendengarnya..

besok cinta seperti apalagi?

emak pun rasa ingin mencungkil kedua bola mata..

Tangisan Pilu Ucok dan Ujang


ada dua tangisan..
sayup2 dari balik pagar emas...
ada perut-perut yang diremas, ada tangan-tangan yang meremas...
ada baju-baju yang diremas..

dua tangisan beda dunia..
dua dua menitikkan air mata..
dua dua beda rasa..
dua dua mengusap-usap 'kampung tengah' yang mulai rusuh tak terarah..
warga mulai naik darah, warga mulai resah..
dua dua mereka gelisah..

ada tangisan si ujang yang inginkan sekotak pizza, makanan si mbok kurang ajar itu tak menarik selera..
diremas-remasnya, dibuat-buatnya air mata, dikeras-keraskannya suara, "Lapaaaarrr, Pizzzaaaaaaaaaa!!!"
Mami Papi cuek saja, sedang asyik menggosok berlian, Ujang terisak-isak, Ujang mulai muak..

ada tangisan si Ucok yang inginkan segenggam nasi, walau itu basi..
tongkat ditangan mengais-ngais bak sampah Ujang...
"Pizzaaaaaaaaaa..." sayup-sayup terdengar rengekan Ujang..
Ucok menetes air liurnya, disusul air matanya..
kampung tengah Ucok mulai marah, ucok meringis perih..
diremasnya, ditekuknya, dilipatnya..
Ucok memandangi bak nasinya hari ini, tak ada nasi, walau itu basi..
Ucok terisak..
Ucok mengusap-usap perut kesayangannya..
"Tenang wargaku, kita masih punya mimpi..."

=Shafira Frida=

Takkan Kujual Langkahmu dengan Harga Seribu



Sudah lama tak kudengar langkahmu..
Langkah yang selalu berubah-ubah rima..
Langkah hati-hati, tak ingin menginjak seekor semut pun yang sedang menjinjing nasi di punggungnya..
Karena kau bilang, nanti kau akan repot mencari keluarganya dan meminta maaf atas kematiannya..

Kau juga suka mengendap-endap melewati pohon mangga, tak ingin membangunkan ratu lebah yang kerjanya hanya tidur meringkuk manja, walaupun aku tau kau sebal dengannya, ya kan?
Kau bilang, kau takut tak punya cukup madu untuk meredam kemarahan bala tentaranya..
Tunggu, mau kau kumpulkan dulu, baru kau akan menggedor kamar si Pemalas itu..

Kau juga punya langkah riang melompat-lompat dan sesekali menepukkan kedua kakimu di udara..
Saat kau berhasil memetik kaktus gurun ternama tanpa duri menempel sedikitpun di dada..
Kemudian kau berikan pada Kekasihmu dengan langkah malu-malu..
Kaktus itupun layu, tak tahan dengan pancaran panasnya pipimu..

Aku paling suka langkah lebarmu, langkah mantap dan sedikit terburu, seperti ada rasa rindu..
Ketika kau menuju rumah berkubah hijau bertahtakan al-qamar wan-najmu,
Lalu kau lantunkan lagu kerinduan-Nya melihat wajah-wajah basah dan hati-hati yang berserah..
Mereka datang dengan langkah bersiap pasrah.
Kaki-kaki mereka basah, lengan pundak saling beradu di belakangmu..
Kau lebarkan kakimu selebar bahu, lalu kau terpaku..
Tergugu, terharu..

Hey…
Aku terpana melihatmu berjalan
Kau di bumi, namun langkahmu membekas di langit..
Lihat jejakmu itu, membuat lubang di langitku, dan menjadi sarang bagi bintang-bintang nakalku..
==========================================
Takkan (PERNAH) kujual langkahmu (WALAU) dengan harga seribu..

=Shafira Frida=

Inginku, dari Rahimku..




Ruangan yang cuma sejengkal ini…
Hari ini kubersihkan, kurapikan karena penuh dengan tumpukan rinduku pada kalian..
Ini cuma ruangan kosong, tak ada kursinya, tak ada karpetnya..
Yang ada bau minyak wangi yang kutumpahkan di sudut-sudut ruangan agar kalian merasa nyaman..

Kapan kalian datang?
Belumkah puas berada di sana?
Kalau ingin datang, tolong satu persatu..
Jangan berebutan..
Tentara tentu tau aturan, dan bidadari pasti seanggun angin malam…

Mari kita bentuk barisan.
Kau, tentara gagah perkasa, berdiri paling depan!
Perangilah semua kemunafikan! Tancapkan bendera berlafadzkan nama Tuhan!

Kalau kau, Bidadari, duduk di sampingku!
Cukuplah kau mendoakan. Ayunkan tangan penuh kegemulaian, senandungkan puji-pujian yang sudah kuajarkan, jangan sampai sedikitpun kau lupakan..

Kalau aku… ?
Tentu menunggu..
Suatu saat kalian datang menyelamatkanku..

Jika ternyata aku mati lebih dahulu..

~Shafira Frida~

Lelaki Pertamaku




Teringat kepada puisi yang pernah kubuat disaat ku merindukan Buya... Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'afihi, wa fu'anhu..

Bundaku menahan sakit. Berjuang antar hidup dan mati.
Lelaki itu berjalan mondar-mandir di luar pintu dengan keringat yang mengucur.
Dia menunggu suatu jeritan dan tangisan.
Akhirnya..
Bundaku menjerit, dan aku pun menangis keras.
Dia tersenyum lega.
Mengambilku dengan segera ke pelukannya dan membisikkan sebuah lantunan iqomah ke telinga kecilku.
Kata Bunda aku langsung terdiam mendengar syahdu suaranya.
Dia, lelaki pertama yang meredakan tangisku.

Setiap sore dia menimang-nimangku sambil bersenandung. Semua senandung dia lantunkan. Aku semakin sering melihatnya tersenyum. Apa semua karena kehadiranku? Wah, Ge-eR..
Hihihi.. Tapi yang jelas dia pria yang paling mencintaiku karena setiap hari selalu ada puluhan ciuman mendarat di pipiku..
Dia..,lelaki pertama yang menciumku.

Aku pernah marah padanya.
Karena setelah kelahiran adikku, aku merasa cintanya mulai terbagi. Apalagi adikku laki-laki, sang penerus nama dan cita-citanya kelak, sang pengganti nakhoda kalau dia pegi nanti.
Aku marah karena semenjak itu setiap pulang dari kantor bukan aku lagi yang diciumnya pertama kali, tapi adikku itu.
Dia...,lelaki pertama yang membuatku cemburu.

Aku menarik ujung bajunya dan bertanya dengan mata sinis,
"Kenapa sekarang Pia yang nomor dua dicium?"
Aku bersungut-sungut.
Lelaki itu tertawa dan mengulum senyum.
"Pia kan dah 5 tahun Buya cium pertama kali, sekarang gantian ya.. Bunda aja nggak protes jadi yang nomer tiga."
Waaah.. aku semakin panas.
Aku merajuk, menunjukkan watak asli gadis melayu. (hehehe)
Dia membujukku..
Merayuku dengan membelikan majalah 'Aku Anak Sholeh' setiap pulang dari kantor.
Aku pun luluh, mana bisa aku marah berlama-lama pada lelaki pertamaku.
Dia.., lelaki pertama yang merayuku.

Ketika aku remaja. Aku pun mengenal cinta.
Aku mulai genit dan suka berkaca. Memandangi wajah di cermin berjam-jam padahal aku tau wajahku juga takkan berubah.
Dan ternyata Lelaki itu mengintip dari balik pintu kamarku.
Dengan wajah menahan senyum dia berkata, "Anak Buya sekarang sudah besar ya..."
Aku langsung merona, lari secepatnya ke tempat tidur dan menutup mukaku dengan bantal.
Dia.., lelaki pertama yang membuatku tersipu. >_<

Tepat umurku 16 tahun, aku memutuskan menutup auratku.
Aku pun memamerkan penampilanku yang baru pada Lelaki itu.
Dia terpana..
Wajahnya dibuatnya seolah-olah menganga, terkejut..
Dia berpura-pura melihat seorang gadis yang belum pernah dikenalnya dengan wajah yang genit ingin menggoda.
Dia mengusap dada.
"Waaah, ini baru gadis Buya."
Padahal aku tau itu semua hanya pura-pura, tapi aku merona juga.
Dia, lelaki pertama yang memuji kerudungku dan ingin menggodaku. Hihihihi, lucu.. ^_^

Waktu itu hari yang indah.
Lelaki itu bercerita tentang segala impiannya. Kami semua mendengarkan dengan bersemangat.
Mobil butut kami terlihat ramai sekali.
Tiba-tiba dia menatap lurus ke depan, tatapannya seperti melihat sesuatu yang selama ini dinanti.
Kosong..
Tiba-tiba dia terkulai ke samping, tepat ke pangkuan Bunda. Bundapun sempat tertawa karena mengira dia bercanda..
"Buya, Bunda sedang menyetir nih.. Jangan becanda ah.." Bunda berkata genit.
Rupanya dia bergeming. Tak ada reaksi. Aku sadar sesuatu yang kutakutkan hari ini terjadi.
Aku membetulkan posisi duduknya. Aku melihat wajahnya menahan sesuatu yang ingin keluar.
Aku memukul-mukul pipinya, ingin menyadarkannya dari mimpi. Ataukah aku yang sedang bermimpi?
Ku beri dia napas buatan, kututup hidungnya, kupompa jantungnya.
Aku berharap bisa menyelamatkan lelaki pertamaku.
Tapi rupanya sia-sia..
Dia lebih ingin bertemu dengan Sang Pemilik Jiwanya.
Lelaki pertamaku begitu rindu pada-Nya.
Kulihat dia melepaskan napas terakhirnya. 'Huff...'
Begitu perlahan, lalu badannya mendingin.
Dia.., Lelaki pertama yang pergi dalam dekapanku..

Ya..
Dialah lelaki pertamaku.
Lelaki pertama yang mencintaiku.
Lelaki pertama yang membuat mataku bengkak karena rindu.
Lelaki pertama yang ingin ku temui di dalam mimpiku.

Ya Rabb..
Jadikanlah kuburannya sebagai taman-taman syurga..

Padang Selayang Pandang..

Saat lepas ruh dari badan, dunia hanya selayang pandang,
yang tinggal cuma bayang2, anak istri yang kusayang..
Apa artinya hidup bergelimang jika keburukan berat ditimbang?
Hilang rasa menang...hanyut terbawa pasang kesombongan,
setelah akhirnya ku tau cuma amal yang akan dipajang...

==Shafira Frida==

Jenuh..

Disini, aku kehilangan jati diri..
Wajah-wajah itu selalu dipenuhi pertanyaan, dimana bisa kudapatkan uang hari ini?
Wajah-wajah tanpa malu di hati padahal begitu mudah mendapat apa yang diingini walau tanpa menengadahkan tangan kepada Penguasa langit dan bumi..
Mereka sudah terbang terlalu tinggi, tanpa ingat untuk turun, berlutut dalam kelemahan yang memacu nadi,
merendahkan kepalanya untuk bersujud,mencium tanah tempat dia nanti kembali..

=Shafira Frida=

Rindu..

Dulu, kami pun punya cerita di kampung itu..
Tentang wajah-wajah yang lelah untuk sesuap nasi, tentang tangan-tangan keriput yang otot-ototnya menonjol demi anak istri, tentang wajah-wajah yang cemas, apa yang bisa kita makan hari ini?
Disana aku tau, betapa indahnya berbagi nasi...

(Shafira Frida)